PERCERAIAN MENURUT KRISTEN
UNIVERSITAS KRISTEN IMMANUEL
PERCERAIAN
Gaya hidup orang kristen pada zaman dahulu tidak dapat
disamakan dengan gaya hidup orang kristen zaman sekarang. Tetapi pada dasarnya
tidak ada banyak perbedaan tetap ada yang namanya moral kristen. Kelakuannya
yang membedakannya dari orang-orang yang tidak percaya. Ini disebut sebagai
gaya hidup orang kristen. Gaya adalah jumlah segala ragam, cara, bentuk, ciri,
dan rupa yang bersama-sama memberikan ciri
suatu macam dalam kesenian. Orang dapat mengenal kepricadian seseorang
dari gaya hidupnya. Demikian pula orang-orang Kristen dapat dikenali dari
perilakunya.[1]
Perceraian adalah salah satu perilaku yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Menurut
Alkitab, hanya ada dua alasan terjadinya perceraian, yaitu karena salah satu
dari suami atau isteri terbukti berzinah (Mat 19:9) dan perceraian oleh
kematian. Sesungguhnya Allah sangatlah membenci perceraian, seperti ada
tertulis “sebab aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah israel-juga orang
yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman Tuhan semesta alam. Maka
jagalah dirimu dan janganlah berkhianat!”.
Perceraian sama sekali tidak dilegalkan dalam
pernikahan kristen. Tuhan Yesus sangat jelas sekali menekankan bahwa apa yang
sudah dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan oleh manusia (Markus 10:9). Ketika membicarakan masalah perceraian, Yesus mengatakan bahwa Musa menginjinkan perceraian oleh
karena “ketegaran hatimu” (Mat. 19:8) Musa tahu bahwa itu adalah jahat tapi apa
boleh buat. Lalu apakah dengan begitu Yesus menolak perceraian sama sekali?
Inilah jawab Yesus “tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan
istrinya, kecuali karena zinah dan kawin dengan perempuan lain, ia berbuat
zinah” (ay. 9). Yesus menolak perceraian. Kecuali perceraian adalah – di dalam
pengecualian itu--- jahat tapi apa boleh buat.[2]
Perceraian Menurut Alkitab
Ajaran PL tentang pernikahan sudahlah jelas, Allah
meneguhkan pernikahan sebagai “Creation Ordinance” yaitu sebagai hubungan
permanen antara dua orang yang berlainan jenis kelamin. Tuhan Yesus menjelaskan
hal ini di dalam Matius 19:7-9 dan Markus 10:1-7 yang mengatakan yang telah
dipersatukan Allah (Yunani Sunezeuchen ialah disatuKukan) tidak boleh
diceraikan oleh manusia. Namun demikian, Tuhan Yesus membuat satu pengecualian
untuk akan adanya perceraian ialah dalam keadaan Porneia (Matius5:31-32). Arti
porneia kita kenal dari perkataan ‘porno’, ‘pornografi. Tuhan Yesus pernah
mengatakan bahwa perzinahan dilakukan bukan hanya dengan tubuh , melainkan
dengan hati dan mata seseorang. Artinya suatu pernikahan tidak boleh diceraikan
kecuali dengan terjadinya “barang najis” atau porneia (Mat. 19:9). Sudah jelas
Tuhan Yesus tidak membatasi perceraian pada perzinahan dalam arti sempit, dan
sudah dijelaskan dalam pasal 7.
Dalam hal ini umat Kristen belum mencapai kesatuan
pendapat. Satu pihak melihat perceraian seakan-akan doasa yang tidak dapat
diampuni, sehingga bagaimana buruknya pernikahan harus dipertahankan kecuali
telah terjadi perzinahan fisik. Ada juga orang kristen yang berpendapat bahwa
terjadinya “porneia” dalam suatu pernikahan, sebaiknya suami isteri langsung
diceraikan. Namun anggapan ini salah karena bertentangan dengan ajaran Allah;
supaya kita menunjukkan sifat belas kasihan satu kepada yang lain. Tentu ada
kalanya pernikahan dapat dianggap sudah gagal. Misalnya, salah satu pihak
ditinggal atau dianaya. Memang, tetapi apa betul pengharapan akan memulihkan
kesatuan dan hubungan kasih anatara kedua belah pihak sudah mati? Kita dapat
menyimpulkannya dengan dua point. Pertama perceraian tidak merupakan hukuman
bagi pihak yang dianggap bersalah dan hadiah bagi pihak yang tidak merasa
bersalah. Kedua, perceraian tidak merupakan kegagalan bagi satu pihak dan
kemenangan bagi pihak lain, melainkan kegagalan two in oneship.[3]
Faktor Umum Penyebab Perceraian
Perceraian berasal dari kata
cerai, yang berarti pisah atau talak. Kata cerai berarti berpisah dan kata
talak berarti sama dengan cerai. Kata mentalak berarti menceraikan.[4]
Perceraian
terjadi ketika sepasang suami istri memutuskan untuk tidak lagi memenuhi ikatan
pernikahan mereka. Ada beberapa faktor yang biasanya dikemukakan sebagai alasan
terjadinya perceraian dalam kehidupan pernikahan, diantaranya sebagai berikut: pertama, motivasi yang keliru dalam menikah. Misalnya menikah hanya ingin harta kekayaan dari calon pasangan
masing-masing. Sehingga motivasi menikah itu salah. Kedua, kurangnya komunikasi
keluarga yang tidak berjalan dengan mulus dan tidak saling membangun satu sama
lainnya. Komunikasi di dalam
pernikahan seumpama darah untuk hidup. Adalah suatu hal yang mustahil mempunyai
hubungan pernikahan yang baik tanpa adanya komunikasi antar pasangan.[5]
Ketiga, kesulitan
ekonomi dan keuangan. Kesulitan ekonomi dan
keuangan tidak dapat dipungkiri lagi juga merupakan salah satu faktor terbesar
timbulnya perceraian. Kesulitan ini dapat dicegah dengan melakukan perhitungan
keuangan dengan baik. Tapi bila kesulitan ekonomi tidak dapat terhindarkan,
para pasangan masing-masing harus mengingat kembali janji yang telah mereka
ucapkan pada upacara pernikahan. Keempat,
intervensi
pihak ketiga dalam keluarga, misalnya orangtua, mertua dan saudara. Keikutcampuran orang tua dan mertua sering membuat kekacauan dalam
hubungan pernikahan. Tak dapat disangkal bahwa mertua dapat mengganggu hubungan suami isteri yang
masih baru. Sang isteri tidak hanya menjadi penolong suaminya namun juga harus
melayani mertua dan saudara-saudaranya. Karena antara mertua dan menantu
memiliki prinsip yang berbeda-beda.[6]
Kelima, ketidaksetiaan pada pasangan. Suka berganti-ganti
pasangan secara umum tidak lagi menerima prinsip-prinsip Alkitab mengenai
moralitas seksual.[7]
Keenam, ketidakdewasaan dalam mengelola konflik. Konflik dalam masa pernikahan memang tidak dapat dihindarkan karena
memang sulit untuk menyatukan kedua karakter yang memiliki keunikan
masing-masing. Namun konflik dalam hubungan pernikahan dapat diminimalis bila
setiap pasangan mempunyai sikap yan responsive dan rileks. Merespon curhatan
pasangan kita dan memberikan rasa rileks dan kelegaan pada pasangan kita.[8]
Namun sebenarnya, perceraian
yaitu pemutusan ikatan pernikahan secara hukum, ini merupakan penyimpangan dari
maksud Allah. “kata Yesus kepada mereka: ‘karena ketegaran hatimu Musa
mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian”.
Hal ini membuktikan bahwa perceraian bukanlah maksud asli Allah bagi
pernikahan.
Akibat
Perceraian
Penceraian walaupun dianggap
sebagai salah satu cara mengatasi pernikahan tak bahagia, pastilah membawa
akibat-akibat yang tak menyenangkan. Perceraian pasti membawa dukacita. Tentu
saja tidaklah adil untuk mempersalahkan saja mereka yang mengalami perceraian.
Bagi mereka yang sungguh-sungguh mencintai, penceraian adalah mimpi buruk,
traumatic dan bahkan bisa membuat kehidupan pribadi menjadi kacau balau. Rasa
gagal dan bersalah dpat menjadi tikaman yang hebat bagi mereka yang bercerai.
Perceraian pastilah menyakitkan, menimbulkan luka besar dan sulit disembuhkan
untuk jangka waktu lama, terutama bagi pihak yang sebenarnya tidak menginginkan
terjadi perceraian.
Tidak hanya untuk pasangan
yang tidak menghendaki adanya perceraian tetapi perceraian juga berdampak buruk
bagi anak-anak. Tidak adanya pengertian dan pengenalan yang benar mengapa orang
tuanya bercerai dapat membuat luka yang mendalam pada diri anak. Perceraian
dapat menjadi trauma dan mimpi buruk serta penderitaan tiada akhir. Tidak hanya
berdampak buruk bagi keluaga, perceraian juga dapat merusak system
kemasyarakatan secara luas. Karena masyarakat dibangun di atas pondasi
keluarga-keluarga, jika keluarga rapuh maka masyarakat pun aan rapuh pula.
Tidak dapat disangkal bahwa
mereka yang telah bercerai dapat membangun keluarga baru yang bahagia. Dan
dapat mendidik anak-anak mereka dengan baik sehingga anak-anak mereka bahagia
dan berhasil. Namun, banyak kasus perceraian juga menimbulkan banyak persoalan
dalam masyarakat dan membuat anak menjadi korban “broken home”. Dengan begitu banyak dampak buruk dari perceraian,
bila pencegahan dapat dijadikan alternatif maka perceraian dapat dihindarkan.[9]
Mencegah
Perceraian
Perceraian memang tidak pernah
menjadi harapan bagi orang-orang yang menikah. Oleh sebab itu dibidang agama
biasanya ditempuh hal-hal beikut ini: pertama, bina pranikah. Sebelum calon
pasangan suami istri menikah, dilakukan pembinaan pranikah untuk mempersiapkan
calon pasangan menyadari secara dini kemungkinan kemelut yang akan timbul dan
cara-cara mengatasinya. Kedua, konseling pranikah. Biasanya dilakukan oleh
konselor, pendeta, pastor, biksu, ustad atau yang lain. Untuk memahami makna
pernikahan secara lebih mendalam. Ketiga, terapi, adalah upaya untuk mengatasi
“penyakit” tertentu dalam pernikahan: masalah ekonomi, WIL atau PIL, komunikasi
yang tidak lancar, hubungan orang tua. Keempat, komunikasi. Keharmonisan dan
kebahagiaan dalam pernikahan sangat bergantung pada komunikasi suami istri.
Misalnya karena banyaknya kesibukkan dari kedua belah pihak sehingga memacetkan
komunikasi secara verbal.[10]
Kesepakatan
Kristen tentang Perceraian
Sedikitnya ada tiga
kesepakatan di kalangan orang Kristen tentang perceraian. Pertama, perceraian
bukanlah rancangan Allah. Allah tidak merancang perceraian. Mal. 2:16
mengatakan bahwa “Aku membenci perceraian”. Allah menciptakan satu pria untuk
satu wanita dan menginginkan agar mereka berdua memelihara sumpah mereka berdua
memelihara sumpah mereka sampai kematian memisahkan mereka. Karena apa yang
dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia (Mat. 19:6). Kedua,
perceraian tidak diperbolehkan untuk setiap alasan. Orang Kristen pada umumnya setuju bahwa
perceraian tidak diperbolehkan untuk alasan apapun. Ketiga, perceraian
menimbulkan masalah. Perkawinan adalah rancangan Allah. Wajar saja kalau
rancangan Allah diabaikan, wajar menimbulkan masalah. Selalu ada harga yang
harus dibayar bagi pasangan, anak-anak, keluarga dan masyarakat. Karena
perceraian menimbulkan goresan yang tak mudah untuk disembuhkan.[11]
Perkawinan = seumur hidup. Allah memaksudkan agar perkawinan merupakan monogami seumur hidup.
Perceraian melanggar hukum Allah untuk perkawinan dan tak pernah boleh
dimaafkan begitu saja. Tidak ada dasar-dasar alkitabiah untuk perceraian,
bahkan juga perzinahan, perzinahan adalah dosa, perzinahan merupakan pembenaran
untuk bercerai berarti berkata bahwa dosa membenarkan perceraian.
DAFTAR
PUSTAKA
Borrong, Robert P. 2006. Etika Seksual Kontemporer. Bandung, INK Media.
Darmaputera, Phil. Eka.1992. Etika Sederhana Untuk Semua. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Douma, J. 2002. Kelakuan Yang
Bertanggung Jawab,
disunting oleh D.J Zanbergen. Jakarta:
BPK Gunung Mulia.
Geisler, Norman L. 2010. Etika Kristen: Pilihan dan Isu Kontemporer edisi 2 Malang:
Literatur SAAT.
Humble, Wanda dan Victor S. Liu. 1997. Persiapan Pernikahan Menuju Rumah Tangga
Yang Bahagia. Yogyakarta: STTII, 1997.
Mark, Dorothy I. 1983. New
Morality. Bandung:
Kalam Hidup.
Mayo, Mary Ann. 2001. Pendidikan
Seks: Dari Orang Tua Kepada Anak. Bandung: Yayasan Kalam Hidup.
Poerwodarminto, W. J. S. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Scheunemann, D. T.t. Romantika
Kehidupan Suami Istri. Malang: Gandum Mas.
Talley, Jim dan Bobbie Reed. 2002. Terlalu Cepat Intim. Bandung: Yayasan
Kalam Hidup.
[1]J. Douma, Kelakuan Yang Bertanggung Jawab, peny ., D. J Zanbergen (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 2002), 78.
[2]Phil.
Eka Darmaputera, Etika Sederhana Untuk
Semua (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1992), 145.
[3]Dorothy I. Mark, New Morality (Bandung: Kalam Hidup,
1983), 80-83.
[4]W.
J. S. Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa
Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1976), 20.
[5]Wanda
Humble dan Victor S. Liu, Persiapan
Pernikahan Menuju Rumah Tangga Yang Bahagia (Yogyakarta: STTII, 1997), 45.
[7]Jim
Talley dan Bobbie Reed, Terlalu Cepat
Intim (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002), 13.
[8] Mary Ann
Mayo, Pendidikan Seks: Dari Orang Tua
Kepada Anak (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2001), 82.
[9]Robert
P. Borrong, Etika Seksual Kontemporer (Bandung, INK Media, 2006),71-72
[10]Ibid.,
72-73.
[11]Norman
L. Geisler, Etika Kristen: Pilihan dan
Isu Kontemporer edisi 2 (Malang: Literatur SAAT, 2010), 360.
Baccarat 101 | The World's leading Baccarat Game - Wilbur
BalasHapusLearn how to 제왕 카지노 play Baccarat in American, French and Spanish. I bet your luck on 인카지노 either side, worrione the other has to be good at winning.